Home > Artikel > Seni sebagai Ruang Pemulihan: Menafsir Kisah Pemulihan Diri lewat Pameran Sutura

Seni sebagai Ruang Pemulihan: Menafsir Kisah Pemulihan Diri lewat Pameran Sutura

Published at Dec 28, 2025 05.23 by ical

22

Seni memiliki kemampuan unik untuk memantulkan pengalaman batin ke dalam bentuk visual yang dapat dipahami banyak orang. Dalam konteks pameran Sutura: Ruang Pulih di Jogja Gallery, seni tidak hanya hadir sebagai objek estetika, tetapi juga sebagai ruang pemulihan bagi pengunjung yang mencari makna, refleksi, dan empati terhadap diri sendiri maupun orang lain. Pemulihan melalui seni terjadi ketika pengunjung terhubung secara personal dengan karya, merespons emosi yang muncul, dan menemukan bahasa baru untuk menyatakan pengalaman batin mereka melalui medium visual.

 

Konsep pemulihan melalui seni dalam Sutura

Pameran Sutura dirancang sebagai perjalanan pemulihan melalui karya seni rupa yang berfokus pada isu kesehatan mental dan gagasan “ruang pulih”. Karya-karya Nasirun, Galam Zulkifli, Erica Hestu Wahyuni, dan seniman lain disusun dengan pendekatan kuratorial yang menonjolkan dinamika luka, pemaknaan, dan proses bangkit kembali. Penataan ruang memungkinkan pengunjung bergerak secara perlahan, memberi jeda untuk merenung, sehingga setiap orang dapat menyusun narasi pribadi mengenai proses penyembuhan yang mereka rasakan sendiri.

 

Narasi kurasi: Cerita di balik karya

Narasi kurasi dalam Sutura berfungsi sebagai panduan halus yang membantu pengunjung memahami bagaimana tiap karya menyumbang pada tema besar pemulihan diri. Penempatan karya tidak hanya mempertimbangkan gaya visual, tetapi juga konteks emosional yang ingin dibangun, mulai dari suasana kelam hingga nuansa harapan. Dengan mengikuti alur tersebut, pengunjung diajak melihat bahwa pemulihan bukan proses lurus, melainkan rangkaian momen refleksi, kehilangan, penerimaan, dan rekonsiliasi yang muncul melalui bahasa visual para seniman.

 

Pengalaman sensorik sebagai pintu introspeksi
Interaksi sensorik melalui visual, warna, komposisi, hingga elemen ruang menjadi pintu masuk penting bagi proses introspeksi. Sejumlah karya dan instalasi dihadirkan agar pengunjung tidak sekadar “melihat”, tetapi juga merasakan suasana yang dibangun, misalnya melalui kedekatan jarak, skala karya, atau kemungkinan interaksi di dalam ruang. Pengalaman yang cenderung multi-sensorial ini membantu menguatkan empati sosial, karena audiens dapat menangkap jejak emosional yang ditinggalkan seniman dan menghubungkannya dengan pengalaman hidup mereka sendiri.

 

Dampak edukatif pameran terhadap kesejahteraan pengunjung
Pameran Sutura memiliki dimensi edukatif yang diarahkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang proses pemulihan diri melalui seni. Informasi kuratorial, diskusi, serta kemungkinan survei pasca-kegiatan dapat menjadi sarana bagi pengunjung untuk menilai kembali cara mereka memandang kesehatan mental dan upaya merawat diri. Temuan dari proses refleksi maupun survei tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi, sehingga pameran serupa di masa depan mampu menghadirkan program yang lebih peka terhadap kebutuhan emosional dan pengetahuan pengunjung.

 

Keberhasilan pameran Sutura pada akhirnya tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi dari seberapa dalam pengalaman pemulihan yang dirasakan audiens selama berada di ruang pamer. Melalui kerangka narasi yang terarah, desain ruang yang mendukung kontemplasi, serta dukungan berbagai pihak yang terlibat, Sutura dapat menjadi contoh bagaimana seni berfungsi sebagai medium pemulihan yang hangat, mudah diakses, dan relevan bagi masyarakat yang peduli pada karya seni dan kesejahteraan emosional.

Perum. Hill Park Regency Kav 2 Jl. Bandulan Barat 65146 Kota Malang Jawa Timur, Indonesia

Made by ARTIKNESIA